Selamat malam, kawan-kawan yang sedang menikmati angin dingin malam ini. Di mana bintang-bintang bertaburan, menambah kesan terindah di langit malam yang gelap, dengan sinar lembut bulan untuk dunia.
Beberapa hari ini, saya sudah lama tidak menulis untuk blog saya, dikarenakan saya tidak memiliki waktu yang cukup banyak untuk memikirkan hal-hal kecil yang penting, yang bahkan kau baru sadar setelah diingatkan. Setiap hari saya berusaha memberikan para pembaca sekalian ilmu-ilmu yang bermanfaat, yang saya yakin sangat akan berguna nantinya. Just keep reading!
Sering saya mendengar dari teman-teman bahwa kita bisa melihat sifat seseorang dari tulisannya. Saya memang belum pernah sama sekali belajar tentang hal ini, tetapi dengan feeling yang kuat saya dapat membacanya. Terkadang, orang yang berpikir dengan otak kiri itu tulisannya tampak kaku, seperti tidak pernah di daur ulang saat telah mencapai umur kurang lebih 9-10 tahun--tentunya kau harus tahu apa yang kumaksud bahwa orang-orang dengan otak kirinya tidak pernah mengubah model tulisannya. Sedangkan orang-orang dengan otak kanannya, memiliki tulisan yang tampak berantakan, dengan coretan-coretan lembut tanpa tekanan yang dalam, tapi terkadang mereka sering bosan dengan font--istilah dalam bahasa IT--mereka dan mengubahnya seiring waktu berjalan.
Kita juga dapat melihat sifat seseorang saat makan. Kata ayah saya, orang yang makannya cepat memiliki kepribadian yang tidak suka basa-basi dan selalu menyelesaikan pekerjaannya tepat pada waktu yang diberikan--atau bahkan sedikit lebih cepat. Sedangkan orang-orang yang lama menghabiskan makanan di piringnya memiliki kepribadian yang lambat, tidak suka tergesa-gesa, tapi merugikan bagi orang-orang di sekitarnya.
Begitu juga saat berbicara. Hal ini dilakukan oleh setiap orang hampir setiap hari, kecuali orang itu benar-benar pendiam--seperti patung. Kadang-kadang kita menemukan orang yang berbicara begitu cepat sampai kita tidak dapat memahami kata-perkatanya--dan kusadari itu, aku termasuk dalam tipe ini. Tipe orang seperti ini memiliki otak yang encer, yang saking encernya seperti air sungai mengalir cepat menuju ujungnya yaitu air terjun. Tapi tipe seperti ini tidak cerewet. Hanya saja saat ia berbicara, ia terlalu cepat. Kalau orang cerewet, tampak bahwa seperti pada postingan saya sebelumnya, orang-orangnya terlalu pintar berbicara dengan otak kosongnya. Dan orang-orang yang berbicara dengan pelan kata-perkata memiliki kepribadian yang begitu lambat. Begitu juga dengan pola pikirnya. Orang yang seperti ini akan lama menangkap sesuatu yang dibicarakan seseorang.
Beberapa cara di atas hanya seberapa persennya saja. Dalam ilmu psikologi kalian dapat menemukan cara yang lebih banyak daripada ini. Tapi saya harap, postingan ini menambah setidaknya 1/20 dari sekian banyak pengetahuan Anda. Saya akhiri postingan saya, sekian dan semoga tidak terlalu bertele-tele dan match dengan judulnya.
Thursday, January 27, 2011
Ketahui Sifat Seseorang dari Kebiasaannya
Keep Silent, Pals!
Okay, good evening my beloved friends!
"Tong kosong nyaring bunyinya."
Ada yang tau peribahasa di atas? Pastinya dari kalian duduk di bangku SD udah tau dong. Nah, aku baru mengerti dan mendalami peribahasa yang udah gak asing lagi di telinga kita.
So, aku punya berjuta-juta pengalaman di masalah ini. Tapi masalahnya aku nggak perhatiin. Yakin deh, kalo kalian nyadar sama peribahasa yang satu ini, pasti kalian ngerti maksudku dan perilaku orang-orang di sekitarmu. Gini, aku punya banyak teman yang kukira 'lebih' pinter dari aku, okay? Dan, kupikir emang begitu. Waktu Try Out pertama, mereka banyak yang masuk ke kelas 9.1 maupun 9.2 di mana orang-orang yang nilainya tertinggi masuk kelas itu (dan aku ada di antara mereka). I realized it, aku sadar kok kalo mereka emang pinter. And do you know how I know it? Pertama sih, karena mereka itu aktif jawab pertanyaan guru. Aktif nanya-nanya, aktif diskusi, aktif juga ributnya. Kadang-kadang pusing juga denger mereka debat.
Tapi, nggak terbesit di pikiranku tentang peribahasa yang udah aku singgung di awal postingan ini. Orang pinter itu nggak banyak omong. Nggak cerewet. Mereka lebih memilih diam dibanding sok pinter, sok banyak omong, sampai berakting sok stress gara-gara nggak masuk kelas 9.1. Bukannya mau sombong, tapi setelah aku pikir-pikir, mereka emang nggak pantes kok masuk 9.1. For seriously, jika kalian punya pemikiran akan hal ini, pasti bisa langsung bedain mana 'orang pinter yang rajin belajar' sama 'orang yang pinter ngomong dan nyontek.'
Pas Try Out kedua, nilai-nilai anak 9.1 banyak yang anjlok. Aku yang kupikir bakal nurun dari peringkat 49 malah naik jadi peringkat 21. Dan, sekali lagi aku tekankan bahwa nggak ada skill nyontek di sini. Maaf aja, harga diriku turun dong sebagai siswi SMP terfavorit dan tertua di Batam. Tapi, murid 9.1 yang kerjanya nyontek, langsung turun ranking-nya. Juga orang-orang yang banyak omong, kayaknya pinter banget gitu. Mereka terlalu memaksakan diri, mencari perhatian guru-guru agar dianggap pintar. Maaf aja bagi yang merasa, tapi faktanya begitu. Kalo guru nyuruh kita nanya, sebisa mungkin kita keluarkan semua rasa penasaran kita. Tapi, bagi orang-orang yang memang murni pintar, mereka jarang sekali sok menjawab atau bertanya kepada guru. Mereka hanya mengatakan hal-hal yang disuruh guru dan memang ditujukan ke mereka sendiri, bukan karena rasa inisiatif mereka.
Jadi, kesimpulan saya selama ini adalah, kita dapat menilai dengan sangat mudahnya, membedakan mana orang-orang yang pintar murni, dan orang-orang yang 'pintar' bicara. Sebaiknya, kurangilah berbicara dan perbanyaklah action. Seperti kata pepatah,
"Talk less, do more!" :)
Saturday, January 22, 2011
Sisakan 1% untuk Rasa Curigamu
Konbanwa minna-san!
Ada sesuatu yang pengen aku sampein ke kalian, the readers!
Do you have any best friends?
Oke, aku nggak meragukan seberapa dari kalian. Pastinya iya, 'kan? Ngaku deh, pasti 90% dari kalian yang baca postingan ini punya best friends? Aku yakin kalian punya, dan aku sendiri juga punya. Semakin naik ke jenjang yang lebih tinggi, dijamin teman maupun sahabat pasti nambah.
Sekarang, apa yang mau aku bicarain? Tentang hubungan pertemanan ato persahabatan. Aku udah sering banget denger ato baca dari salah satu situs jaringan yang lagi marak banget, you know that are facebook and twitter. Aku sih sering banget liat di facebook, foto profilenya bareng-bareng, atau jadi sibling-nya, atau di twitter buat id-namenya mirip-mirip.
Tapi, ada juga yang berantem. Saling menulis seluruh hewan-hewan yang ada di dalam kebun binatang di statusnya, yang ditujukan kepada salah satu exbestfriends-nya. Sering aku mendengar karena ternyata mereka--exbestfriends--jahat dan pengadu domba. Pemfitnah. Atau sebagainya.
Fakta-fakta seperti di ataslah akibat dari terlalu besar rasa percaya kita terhadap seorang TEMAN! Ketika kau menghabiskan pikiran curigamu terhadap seseorang, mempercayainya 100%, belum tentu dia dapat dipercaya atau seorang yang baik. Mungkin kelakuan baik dihadapanmu adalah topeng yang menutupi kejahatan dan muka liciknya.
Dalam postinganku yang sebelumnya nih, aku udah bilang, aku punya masalah psikologi karena suka su'udzon sama orang yang belum aku kenal dan itu nggak baik. Memang, tapi, sebaik apapun orang tersebut, selama apapun kau berteman dengannya, seakrab apapun kalian, aku sarankan untuk menyisakan rasa percaya kalian terhadap seseorang tersebut 1% saja. Jika kau bisa mencurigainya untuk 1%, kau tidak akan masuk ke dalam jurang kehidupan yang penuh dengan kepedihan.
Terkadang, kita lebih mempercayai seseorang yang bahkan tidak kita ketahui kepribadiannya. Jadi, intinya adalah, untuk menghindar dari jurang kehidupan yang pahit dan pedih, sebaiknya melakukan langkah pertama untuk tidak memberikan 100% kepercayaan kita pada seseorang, okay?
Kadang-kadang kebencian, kepedihan, kepahitan, ketidaksukaan, kehancuran, dimulai dari orang-orang yang kita percaya. Believe it!
Start your life carefully!
Look Inside, Not Outside
Malem semua..
Saya di sini sebagai penulis dan tentunya seorang manusia, pasti memiliki banyak kesalahan dan dosa. Saya tahu itu--begitu juga Anda pastinya, para pembaca sekalian--dan saya selalu mencoba untuk mencari satu-persatu kesalahan saya tersebut begitu juga dengan solusi untuk menghindari saya melakukan kesalahan itu.
Begini, di setiap saya menyiapkan beberapa topik untuk postingan saya ke depannya, selalu saja menumpuk beberapa pikiran yang sebenarnya benar-benar ingin saya sampaikan. Dan akhirnya agar tidak bertele-tele, saya akan memasuki bagian isi, di mana Anda akan mengerti apa maksud saya menulis judul dan pembukaan yang rumit seperti ini.
Saya mempunyai masalah psikologi yang cukup rumit--saya akui, saya memiliki beberapa masalah dalam segi mental dan psikologi--tentang melihat seseorang yang pantas dijadikan sebagai teman. Saya tahu saya sudah pernah mengalami kesulitan seperti ini saat saya masih duduk di bangku SD, tetapi saya masih melakukannya saat duduk di bangku SMP yang berada antara kehidupan yang menyedihkan atau menyenangkan sekalipun.
Terkadang, saya tertipu untuk memilih seorang teman yang baik untuk diajak bergaul. Itu rumit, karena saya bukanlah seorang yang cuek seperti Ibu saya melainkan seperti ayah saya yang begitu terlalu memperhatikan sesuatu yang bahkan tidak diperhatikan oleh orang lain. Begitulah, terlalu banyak pertimbangan yang sesungguhnya benar-benar tidak menguntungkan.
Saya selalu memperhatikan dan menilai seseorang dari penampilan dan sikap sehari-harinya yang 'hanya' dapat saya lihat. Mengapa hanya? Karena, ternyata di balik sikap yang mereka tunjukkan di hadapan kita, ternyata jauh lebih baik dari yang kita sangka. Begitulah, dan saya salah.
Seharusnya saya melihat betapa baik dan ramahnya mereka. Betapa rendah hati mereka. Tetapi inilah masalah saya dan teman-teman yang merasa seperti ini. Seharusnya saya melihat sikap polos mereka yang sebenarnya, dan itulah, itulah mengapa Ibu saya jauh memiliki teman yang banyak dibanding saya.
Di sinilah saya harus melihat diri saya, yang begitu melihat fakta di hadapan saya, tanpa melihat dunia yang membelakangi saya. Saya tidak mengerti, walaupun saya terus mengulanginya hingga kesekian juta kali, saya terus melakukan kesalahan ini. Ternyata, benar kata seseorang yang bijak, dengan kata-katanya yang terkenal, "Mencari musuh lebih mudah dibanding mencari teman."
Baiklah, begini teman-teman. Saya mengharapkan sesuatu yang lebih dari ini semua. Saya berharap kalian yang membaca postingan ini, entah mungkin benar-benar bermanfaat dalam hidup Anda sekalian, atau mungkin benar-benar tidak ada sangkut pautnya dengan judul yang tertera di atas, saya berharap saya sudah mencoba memberikan ilmu terbaik yang saya miliki!
Sekian postingan singkat yang mungkin juga tidak terlalu singkat tapi tidak juga panjang, selamat menikmati hari-hari Anda dengan teman-teman Anda yang sudah bertahun-tahun Anda pertahankan!
- A.A.M.R
