Good evening everyone.
Well, aku dapat ilham dari cerita ibuku. Kira-kira begini lah ceritanya, suatu hal yang sangat sepele, tapi ternyata benar-benar menakjubkan sekaligus mengerikan.
Suatu hari di sebuah desa tinggallah seekor tikus kecil di rumah sepasang suami istri. Suaminya adalah seorang petani. Mereka merupakan pasangan yang tidak memiliki seorang anak. Pada satu hari, pasangan suami istri tersebut mengetahui bahwa ada seekor tikus yang tinggal di rumah mereka. Mereka pun berencana untuk membunuh tikus tersebut dengan membeli sebuah perangkap tikus. Sang tikus mendengar rencana suami istri tersebut dan tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya ia mendatangi seekor ayam ternak pak Tani. Ia bercerita tentang hidupnya yang terancam. Setelah tikus selesai bercerita, ayam hanya bisa berkata, "Tikus, aku sangat kasihan padamu," dan melanjutkan aktivitasnya. Karena merasa kecewa dengan jawaban ayam, ia pun pergi ke tempat kambing. Ia bercerita lagi tentang hidupnya yang terancam, dan kambing pun berkata, "Tikus, aku sangat kasihan padamu," dan melanjutkan aktivitasnya. Masih kecewa dengan jawaban kambing, ia pun mendatangi teman terakhirnya, si sapi. Kemudian ia bercerita tentang hal yang sama dan sang sapi juga menanggapi cerita si tikus sama seperti ayam dan kambing. Akhirnya, tikus pun tidak bisa apa-apa. Padahal, nyawanya sudah terancam akan hilang.
Lalu keesokan harinya, suami istri itu hendak pergi ke pasar untuk mencari perangkap tikus. Namun, tiba-tiba san istri jatuh sakit. Akhirnya mereka tidak jadi membeli perangkap tikus dan kembali ke rumah. Setelah berhari-hari sakitnya tak kunjung sembuh, sang suami pun memutuskan untuk membuat sup ayam dari ayam ternaknya. Ayam pun disembelih dan diolah menjadi sebuah sup yang nikmat. Tapi, penyakitnya tak kunjung hilang. Sang suami pun menyembelih kambingnya untuk dibuat menjadi sate kambing, agar istrinya lekas sembuh. Tetapi, pada akhirnya mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi. Penyakit sang istri yang tak kunjung hilang pun menelan nyawanya dan sang istri pun meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Karena istrinya meninggal, sang suami pun mengadakan acara untuk mengenang kepergian sang istri dengan membagikan daging sapinya kepada warga-warga di desa. Pada akhirnya, sang tikus kecil pun selamat dari ancaman.
Sebenarnya, apa yang dapat kita petik dari cerita ini? Ingatlah, jika seorang temanmu memiliki masalah, janganlah membiarkan mereka menderita dengan masalah itu. Bantulah semampunya. "It's not my business" merupakan salah satu bentuk cerminan diri yang tidak mau membantu orang lain. Seperti sang tikus yang sedang dalam kesulitan, seharusnya teman-temannya berusaha menolong. Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka hanya berkata "kasihan". Sebenarnya, sikap seperti itu menunjukkan rasa tidak peduli terhadap sesama manusia.
So, ingatlah para pembaca semua. Jangan biarkan temanmu menderita dengan masalah mereka jika kalian tidak ingin seperti itu. :)
Friday, March 25, 2011
It's Not My Business
Monday, March 7, 2011
Rahman wa Rahiim
Good day everyone!
Saturday, March 5, 2011
Misunderstanding
Selamat siang semuanya, saya punya beberapa pemikiran yang sempat terlintas di benak saya dan akan saya uraikan pada beratus-ratus kata pada postingan kali ini. Semoga kali ini sungguh bermanfaat dan menambah pengetahuan kalian semua.
Tadi, ketika saya sedang membaca postingan saya tentang Love and Parents (baca postingan sebelumnya) saya hampir melupakan sesuatu. Sebenarnya ini benar-benar simpel, tapi masih banyak orang awam yang tidak mengerti hal ini. Kita adalah insan yang harus taat kepada orangtua, menyayangi orangtua, saling menyayangi suami/istri bagi yang sudah menikah, menyayangi anaknya, mematuhi guru, dan berbagai macam lainnya yang telah Anda sekalian ketahui. Tapi, tahukah Anda bahwa Allah SWT pernah berfirman bahwa kita hanya diperbolehkan menaati, menyayangi, mengingat, mencintai Dia? Ya, kita hanya boleh melakukannya kepada Allah SWT. Lalu, apakah hal tersebut menjadi alasan untuk tidak mematuhi orangtua atau membantah guru?
Begini, para pembaca sekalian. Kita hanya diperbolehkan mengingat yang satu, yaitu Allah SWT. Kita diharuskan menaati yang satu, yaitu Allah SWT. Dan kita juga harus membuat Allah menjadi senang. Allah senang jika kita menaati dan mengingatnya setiap saat. Terutama saat kita berhadapan dengan-Nya pada 5 waktu dalam sehari. Dan menaati setiap peraturan-Nya. Dan untuk membuat Allah senang, kita harus menaati perintah-Nya untuk menyayangi dan mematuhi orangtua, untuk menafkahi keluarga, memberikan pendidikan yang layak untuk anak, menghormati guru serta para pahlawan, dan ini bukanlah sesuatu yang dikatakan 'Syirik'. Ini merupakan perilaku yang baik karena menaati setiap perintah-Nya.
Tapi, banyak orang-orang yang salah mengartikan maksud tersebut. Ada orang-orang yang terlalu mencintai dan mengingat keluarga dan anak-anaknya dibanding mengingat Yang Maha Kuasa. Ada juga orang-orang yang selalu mengingat Allah SWT tanpa memperhatikan keluarga dan kepentingan anak-anaknya, dan hal seperti ini termasuk melanggar perintah Allah.
Jadi, para pembaca sekalian, marilah kita menaati setiap perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan janganlah melupakan urusan dunia. Karena, Allah menyayangi setiap hambaNya yang selalu mematuhi setiap perintahnya. Jika Allah menyuruh kita untuk membahagiakan orangtua, bahagiakanlah mereka dengan belajar yang benar di sekolah, berprestasi di berbagai bidang, mengharumkan nama mereka. Jadi, janganlah salah pengertian. Kita hidup di dunia ini, di letakkan di dunia ini pasti karena Allah punya alasan tersendiri.
Saya bukanlah seorang yang sempurna. Saya juga merupakan hamba-Nya yang penuh dengan dosa. Tapi, saya berusaha untuk melakukan semuanya yang terbaik untuk-Nya juga berusaha mengingatkan Anda tentang hal yang sangat sederhana ini. Dan janganlah lupa tentang fakta bahwa Allah sangatlah mencintai dan menyayangi hamba-Nya lebih dari yang kita duga.
Sekian penjelasan saya, terimakasih. :)
Friday, March 4, 2011
Love and Parents
Konbanwa minna-san!
Aku dapat pencerahan dari salah seorang temanku. Sesuatu yang tidak mereka miliki tetapi aku mempunyainya, begitu juga sebaliknya. Mereka memiliki sesuatu yang tidak pernah kumiliki. Apa itu?
Jadi, sebenarnya teman-teman, sesuatu itu adalah cinta dan orang tua. Penguraiannya adalah sebagai berikut.
Aku bukanlah orang berada, bukan anak seorang pejabat, bukan anak seorang tokoh masyarakat, tidak memiliki keluarga yang eksklusif, tapi aku dekat dengan mereka. Dengan orangtuaku. Mereka bukan orang penting, tapi bagiku mereka adalah orang-orang terpenting dalam hidupku. Mereka selalu menyisakan waktunya untuk sharing dan menasihatiku. Mereka masih mau berbagi cerita dan pengalaman masa mudanya dulu. Setiap hari ulangtahun salah satu anggota keluarga, kami selalu merayakannya walaupun hanya dengan makanan yang biasa. Tapi kami penuh kebersamaan. Sudah saling mengenal satu sama lain.
Tetapi apa yang didapatkan oleh anak orang kaya maupun orang tua yang sangat sibuk keluar masuk kota untuk bekerja? Mereka ditinggal dengan (maaf cakap) pembantunya dan mereka tidak mengenal orangtuanya. Jarang sekali ada yang masih merayakan hari ulangtahunnya bersama keluarga tercinta. Mungkin sekedar memberi hadiah-hadial mahal.
Kebahagiaan bukanlah materi. Cobalah mempelajari hidup kalian untuk mendekatkan diri kepada mereka.
Yang kedua adalah cinta. Siapa sih yang nggak pernah pacaran? Cupu deh, nggak laku, dan kebanyakan orang berbicara semacam itu. Aku sebagai orang yang tidak berpengalaman dalam hal berpacaran dan sebagainya, hanya bisa meludah mendengar cerita-cerita temanku yang sok romantis dengan pasangannya. Dan salah satu temanku mengatakan, kira-kira seperti ini inti yang kudapat dari kata-katanya, "Kami nggak minta solusi tentang hal-hal seperti ini (cinta) sama ko karena ko tu masih belum berpengalaman dalam segi cinta. Pasti ujung-ujungnya ko cuma bisa ngeledekin apa yang kami omongin."
Bukannya iri, tapi kadang-kadang aku risih sama orang yang ngomongin masalah cinta. Rasanya tidak seperti orang yang berintelektual. Kayak nggak ada pokok bahasan lain aja. Aku emang nggak ngerti masalah kayak gitu, tapi cinta itu cuma berapa persen dari kehidupan kita. Tapi, karena hawa nafsu telah menyelimuti diri kita, terkadang ingin mati rasanya jika begini begini begini (lagi-lagi cinta). Dan karena masalah ini rasanya aku seperti diremehkan oleh orang-orang yang sibuk curhat sana-sini tentang cinta. Terkadang aku jengkel, tapi biarlah. Nanti juga mereka mengerti kenapa aku seperti ini.
Cinta itu cuma beberapa persen dari hidup kita kok, percayalah. Sebagai seseorang yang masih menimba ilmu di sekolah menengah, aku hanya memikirkan perasaan orangtuaku dan sanak saudaraku yang berada jauh dari tempat tinggalku. Aku memikirkan masa depanku. Aku memikirkan segala sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan cinta.
Begini, aku juga seorang anak cucu adam hawa yang memiliki perasaan terhadap seorang cowok. Tetapi, hidupku bukan hanya untuk orang tersebut. Umpamanya begini, selama dia bukan suamiku, aku tidak akan mati-matian menjaganya atau menahannya agar tidak pergi dariku. Tapi, jika dia adalah suamiku, aku akan menjaganya dan menahannya karena kami sudah diikat dan disatukan dalam sebuah hukum yang menetapkan bahwa kami adalah seorang pasangan suami istri yang sah.
Bagaimana? Akankah kalian mempertaruhkan hidup kalian untuk seorang insan yang nantinya belum tentu menjadi pasangan kita di masa depan? Kurasa, dekatkanlah hubungan kalian yang sedikit renggang dengan orangtua. Dan kalian akan merasa nyaman dan sangat nyaman, dan tanpa kehadiran mereka hidup kita bukanlah apa-apa.
Aku bukanlah ahli cinta maupun ahli sesuatu yang mirip seperti itu. Tapi, berpikirlah secara dewasa. Rasa suka itu normal, tapi jangan terlalu larut dalam perasaan itu. Jadikanlah perasaan itu sebagai motivasi kita untuk menjalani hari-hari berikutnya. Sesungguhnya anak seusia kita masih sangat labil dalam urusan seperti itu.
Dan hal yang terpenting dari semuanya, tetaplah ingat Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. :)

